Manajemen Risiko Proyek (Sedia payung sebelum hujan…)

Banyak risiko yang terkandung dalam proyek. Semakin besar ukuran dan kompleksitas proyek maka risiko yang terdapat dalam proyek juga semakin besar. Jika tidak diantisipasi maka risiko akan menjadi problem atau masalah bagi proyek. Bagi Anda yang berkecimpung dalam dunia proyek, rasanya hari-hari penuh dengan menghadapi risiko dan problem . Lelah, bingung, stress, dan akhirnya marah-marah…(walaupun masalah tetap tidak kunjung selesai). Ada baiknya membaca tulisan ini sebagai pengetahuan awal mengenai manajemen risiko proyek.

Seringkali penanganan risiko terlambat dilakukan. Penanganan dilakukan setelah problem atau masalah itu terjadi yang tentu saja hanya dapat mengurangi sedikit dampak yang terjadi. Pengelolaan risiko proyek yang baik akan membuat proyek lebih terkendali dan proyek tidak mengalami kerugian. Andapun dapat tidur nyenyak.

Pengertian Risiko Proyek

Dalam konteks proyek, risiko adalah suatu kondisi atau peristiwa tidak pasti yang jika terjadi mempunyai efek positif atau negatif terhadap sasaran proyek. Sebuah risiko mempunyai penyebab dan jika risiko itu terjadi, akan ada konsekuensi. Jika yang terjadi adalah peristiwa yang tidak pasti, maka dampaknya adalah pada biaya, jadwal, dan kualitas proyek.

Risiko memiliki tiga  unsur, yaitu Kejadian adalah barang yang diproduksi tidak laku dijual, Kemungkinan yaitu barang yang diproduksi bisa saja (memungkinkan untuk) terjual atau bisa saja tidak terjual, dan akibat yaitu jika barang sampai tidak terjual, akibat yang merugikan adalah tidak memperoleh pendapatan sementara sudah banyak biaya yang dikeluarkan.

Risiko merupakan kemungkinan terjadinya hal-hal yang akan berdampak negatif terhadap sasaran. Risiko diukur dengan melihat konsekuensi yang mungkin terjadi dan besarnya probabilitas terjadinya risiko tersebut (AS/NZS, 1999). Dengan pembahasan khusus untuk kontraktor, maka risiko dapat didefinisikan sebagai berikut: “Risiko usaha kontraktor adalah kemungkinan terjadinya sesuatu keadaan/peristiwa/kejadian dalam proses kegiatan usaha, yang dapat berdampak negatif terhadap pencapaian sasaran usaha yang telah ditetapkan”.

 

Manajemen Risiko

Definisi manajemen risiko menurut PMBOK, yaitu sebagai berikut:

a.     Merupakan proses formal, dimana faktor-faktor risiko secara sistematis diidentifikasi, dianalisis dan ditangani.

b.    Merupakan suatu metode pengelolaan sistematis yang formal yang berkonsentrasi pada mengidentifikasi dan mengendalikan area atau kejadian-kejadian yang berpotensi untuk menyebabkan terjadinya perubahan yang tidak diinginkan.

c.    Di dalam konteks suatu proyek, merupakan suatu seni dan ilmu pengetahuan dalam mengidentifikasi, menganalisis dan merespon terhadap faktor-faktor risiko yang ada selama pelaksanaan suatu proyek.

Menurut Kezner (1995), manajemen risiko adalah sebuah proses mengidentifikasi dan mengukur dan mengembangkan, menyeleksi dan mengatur pilihan-pilihan untuk menangani risiko-risiko tersebut. Manajemen risiko yang layak adalah yang mengaplikasikan kemungkinan-kemungkinan di masa yang akan datang dan bersifat proaktif ketimbang reaktif. Dalam hal ini manajemen risiko tidak hanya mengurangi kecenderungan terjadinya risiko, tetapi juga dampak yang ditimbulkan risiko tersebut.

Manajemen risiko adalah suatu sistem pengelolaan risiko yang digunakan di dalam suatu organisasi atau perusahaan yang pada dasarnya merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan yang dilakukan terus-menerus untuk mengendalikan kemungkinan timbulnya risiko yang membawa konsekuensi merugikan bagi organisasi atau perusahaan yang bersangkutan, termasuk di dalam suatu proyek. Manajemen risiko merupakan suatu proses yang sistematis dan terorganisir mulai dari identifikasi risiko, analisa risiko, pengurangan atau peniadaan risiko secara efektif untuk mencapai sasaran/tujuan (C. Duffield & B. Trigunarsyah, 1999). Adapun yang menjadi tujuan manajemen risiko adalah sebagai berikut (C. Duffield & B. Trigunarsyah, 1999):

  1. Membatasi kemungkinan-kemungkinan dari ketidakpastian
  2. Membuat langkah-langkah yang lebih mengarah pada tindakan proaktif dibandingkan reaktif dalam memandang kemungkinan ancaman dan kerugian yang besar.
  3. Membatasi kerugian dan ketidakpastian pada stake holder
  4. Menjaga kesinambungan program operasi, sehingga tidak terganggu dengan kejadian-kejadian yang belum terantisipasi sebelumnya.
  5. Menjalankan program manajemen risiko secara efektif sehingga mempunyai pengaruh yang menguntungkan dan bukan menimbulkan biaya baru.Kegunaan manajemen risiko dalam tahap tender antara lain:

Kegunaan manajemen risiko dalam tahap tender antara lain:

1        Mengidentifikasi risiko yang mungkin dapat terjadi dengan mengacu kepada pengalaman-pengalaman sebelumnya

2        Membuat rencana penanggulangan apabila risiko yang diidentifikasi tersebut benar-benar terjadi

3        Menghitung efek biaya yang perlu dimasukkan dalam harga tender

4        Memberikan petunjuk (guidance) kepada tim proyek yang akan melaksanakan tugasnya untuk membuat perencanaan terhadap penanggulangan risiko.

 

Tahapan Manajemen Risiko

Ada beberapa tahapan dalam manajemen risiko. PMBOK membaginya dalam beberapa tahapan seperti gambar berikut:

Mirip dengan PMBOK, Grey and Larrson, komponen utama dari proses manajemen proyek adalah:

Gambar di atas mudah-mudahan cukup menjelaskan. Ini pengetahuan awal mengenai manajemen proyek. Di tulisan berikutnya, saya akan mendetilkan pernak-perniknya.

 

About budisuanda

Praktisi dan akademisi manajemen proyek
This entry was posted in Manajemen Proyek, Resiko Proyek and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s