Sumber Risiko Proyek

Tahap awal untuk mengelola risiko adalah dengan mengenali sejak dini potensi risiko yang mungkin muncul. Semakin banyak sumber risiko yang didapat akan semakin baik karena akan memperkecil dampak atas risiko yang tak terduga.

Perlunya Deteksi Dini

Identifikasi terhadap bagian-bagian yang kritis dari risiko adalah langkah pertama untuk melaksanakan penilaian risiko agar tercapai sasaran proyek. Sumber-sumber risiko diidentifikasi berdasarkan pertanyaan mengapa dan bagaimana kemungkinan-kemungkinan risiko yang ada sehingga dapat menyebabkan kerugian (Y.Y. Haimes,1998). Peluang terbesar terjadinya sebuah peristiwa risiko (misal kesalahan estimasi waktu, estimasi biaya, atau teknologi desain) adalah dalam hal konsep, perencanaan, dan tahap mulai (start-up) dari proyek. Dampak biaya suatu peristiwa risiko di dalam proyek lebih kecil jika peristiwa terjadi lebih awal, bukan kemudian.

Tahap-tahap awal dari proyek menunjukkan periode ketika ada kesempatan untuk memperkecil dampak atau pekerjaan di sekitar risiko potensial. Dan sebaliknya, ketika proyek berlangsung separuh jalan, biaya peristiwa risiko yang terjadi meningkat dengan cepat. Mengenali peristiwa risiko proyek dan memutuskan respons sebelum proyek mulai adalah sebuah pendekatan yang lebih bijaksana daripada tidak mencoba mengelola risiko. Gambar berikut menjelaskan grafik peristiwa risiko:

Sumber Risiko Proyek

Sumber-sumber utama timbulnya risiko yang umum menurut Perry & Hayes (1985), Curtis & Napier (1992), dilihat dari beberapa jenis risiko, di antaranya:

a.       fisik,

b.      lingkungan,

c.       perancangan,

d.      logistik,

e.       keuangan,

f.       aspek hukum,

g.      perundang-undangan,

h.      keamanan,

i.        politik,

j.        konstruksi

k.      operasional

Sumber risiko menurut John A. Rutgers pada bagian Procurement & Construction adalah:

a.   Waktu

b.   Biaya

c.   Kinerja

d.   Perubahan Design

e.   Kenaikan suku bunga

f.   Akibat kerusakan

g.   Force majeure

h. Perubahan nilai mata uang

Sumber risiko dapat diartikan sebagai faktor yang dapat menimbulkan kejadian yang bersifat negatif atau positif. Sebagai contoh, di bawah ini adalah sumber risiko dari suatu proyek:

A.    Risiko yang berkaitan dengan bidang manajemen

  1. Kurang tepatnya perencanaan lingkup, biaya, jadwal dan mutu
  2. Ketepatan penentuan struktur organisasi
  3. Ketelitian pemilihan personil
  4. Kekaburan kebijakan dan prosedur
  5. Koordinasi pelaksanaan

B.     Risiko yang berkaitan dengan bidang teknis dan implementasi

1. Ketepatan pekerjaan dan produk desain-engineering

2.      Ketepatan pengadaan material dan peralatan (volume, jadwal, harga, dan kualitas

3.      Ketepatan pekerjaan konstruksi (jadwal dan kualitas)

4.      Tersedianya tenaga ahli dan penyelia

5.      Tersedianya tenaga kerja lapangan

6.      Variasi dalam produktifitas kerja

7. Kondisi lokasi dan site

8.      Ditemukannya teknologi baru dalam proses konstruksi

C.  Risiko yang berkaitan dengan bidang kontrak dan hukum

1.   Pasal – pasal kurang lengkap, kurang jelas, dan interpretasi yang berbeda

2.   Pengaturan pembayaran, change order dan klaim

3.   Masalah jaminan, guaranty, dan warranty.

4. Lisensi dan hak paten

5.   Force majeure

D.  Risiko yang berkaitan dengan situasi ekonomi, sosial dan politik

1.   Peraturan perpajakan dan pungutan

2.   Perijinan

3.   Pelestarian lingkungan

4.   Situasi pasar

5.   Ketidakstabilan moneter

6.   Realisasi pinjaman

7.   Aliran kas

Menurut pendapat John Murdoch dan Will Hughes risiko-risiko di bawah ini yang sering muncul dalam kontrak konstruksi adalah sebagai berikut:

A.    Kondisi fisik lapangan

1.   Kondisi buatan yang disebabkan oleh halangan / rintangan

2.   Material cacat

3.   Ketidakahlian (defective workmanship) sehingga menimbulkan kerusakan

4.   Biaya test dan benda uji

5.   Cuaca

6.   Persiapan lapangan

7.   Ketidakcukupan pegawai, buruh, peralatan, material, waktu dan biaya

B.     Keterlambatan dan perselisihan

1.   Keberadaan di lapangan sehubungan dengan memulai pekerjaan

2.   Keterlambatan dalam pengadaan informasi

3.   Pelaksanaan pekerjaan yang tidak efisien

4.   Keterlambatan yang disebabkan pihak lain

5.   Penempatan peralatan atau material yang dapat menimbulkan keterlambatan atau perselisihan (lay out dispute)

C.     Pengarahan dan pengawasan

1.   Keinginan untuk menguntungkan diri sendiri / ketamakan

2.   Kurang ahli dalam melakukan pengarahan dan pengawasan (tidak kompeten)

3.   Pengarahan dan pengawasan yang tidak efisien

4.   Bersifat memihak

5.   Kesenjangan komunikasi

6.   Kesalahan dalam dokumentasi

7.   Kesalahan perencanaan

8.   Pemenuhan penjaminan yang disyaratkan

9.   Ketidakjelasan spesifikasi

10. Ketidaktepatan dalam pemilihan konsultan atau kontraktor

11. Perubahan-perubahan persyaratan

12. Kerusakan pada pemilikan dan kecelakaan pada orang

13. Pelanggaran jaminan

14. Tidak terasuransinya hal-hal di luar kontrol pihak-pihak yang terkait

15. Kecelakaan

16. Risiko yang tidak terasuransikan seperti perang, kerusuhan, dll.

17. Kerugian-kerugian yang disebabkan oleh risiko yang tidak terasuransi di atas

18. Rentang dan batas waktu asuransi

D.    Faktor-faktor eksternal

1.   Kebijakan dan peraturan pemerintah tentang pajak, tenaga kerja, keamanan dan keselamatan kerja, dan lain-lain.

2.   Keterlambatan atau penolakan persetujuan perencanaan

3.   Keterbatasan finansial

4.   Penahanan pembayaran

5.   Biaya perang atau kerusuhan

6.   Kerusakan yang diakibatkan oleh kejahatan, intimidasi, dan lain-lain.

7.   Pemogokan tenaga kerja

8.   Pemberhentian pekerjaan

E.     Pembayaran

1.   Devaluasi

2.   Keterlambatan dalam pengajuan pembayaran

3.   Keterlambatan dalam sertifikasi pembayaran

4.   Keterbatasan hukum / peraturan dalam pengembalian bunga

5.   Ketidaksanggupan kontraktor, subkontraktor, atau pemilik dalam membayar hutang

6.   Keterbatasan  pendanaan

7.   Kekurangan atau kesalahan dalam proses pengukuran atau perhitungan

8.   Fluktuasi nilai tukar mata uang

9.   Inflasi

10. Biaya penggantian peralatan

F.      Hukum / peraturan dan arbitrase

1.   Keterlambatan dalam pemecahan masalah

2.   Ketidakadilan

3.   Ketidakpastian akibat kontrak atau dokumentasi lain yang bermakna ganda sehingga menimbulkan kesalahpahaman dan perbedaan interpretasi

4.   Perubahan Undang-undang

5.   Pemahaman-pemahaman baru dalam hukum / peraturan umum



About budisuanda

Praktisi dan akademisi manajemen proyek
This entry was posted in Manajemen Proyek, Resiko Proyek and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s