Jembatan Selat Sunda : Biaya, Pendanaan, dan Kelayakan

Dalam tulisan sebelumnya telah disampaikan gambaran secara umum mengenai mimpi membangun Jembatan Selat Sunda. Kali ini akan disampaikan informasi mengenai biaya pembangunan, pendanaan, dan tentu kelayakannya. Layakkah mega proyek ini dibangun?

Biaya yang Dibutuhkan

Konstruksi jembatan Selat Sunda diperkirakan menghabiskan biaya US$ 10 miliar atau sekitar Rp 92 triliun. Pendapat berbeda diungkapkan oleh Siswono Yudo Husodo, seorang tokoh nasional yang pernah menjadi anggota tim pembuatan maket Jembatan Selat Sunda pimpinan Ir Rochaji Gaffar dari ITB, pada 1965, saat dia masih mahasiswa ITB. Menurut dia, perkiraan dana pembangunan JSS sebesar Rp 92 triliun itu terlalu tinggi.

Menurut perhitungan Siswono, pembangunan jembatan dengan panjang 30 kilometer dan lebar 60 meter di Selat Sunda itu hanya butuh dana Rp 42 triliun. Dana sebesar itu sudah cukup untuk membangun jembatan gantung dengan menggunakan konstruksi baja. Anggaran Rp 42 triliun itu dihitung berdasarkan pengalaman perusahaan Siswono membangun Jembatan Barelang, yang menghubungkan Pulau Batam-Rempang-Galang, di Provinsi Kepulauan Riau.

Studi awal mengenai kelayakan penyeberangan Jawa-Sumatra yang komprehensif telah dilakukan oleh Prof. Wiratman, W. Pada tahun 1996. Disimpulkan bahwa dari tiga alternatif sarana penyeberangan Selat Sunda: terowongan di bawah dasar laut, terowongan terapung dan jembatan panjang, maka selama pembuatan jembatan memungkinkan alternatif ini yang termurah dan memberikan berbagai keuntungan baik ditinjau dari aspek keamanan konstruksi maupun tahapan operasional, dibandingkan alternatif pembangunan terowongan. Lebih lanjut, untuk pembangunan jembatan dengan bentang ultra-panjang, saat ini sudah tersedia teknologi jembatan gantung generasi ke-3. Dengan menggunakan teknologi ini dan berdasarkan data harga jembatan Selat Messina (Italia), pembangunan jembatan Selat Sunda dengan panjang total 27,4 km (15 mil laut) diperkirakan memerlukan biaya sampai US$ 7.0 milyar.

Perhitungan yang dilakukan oleh Dr. Ir. Jodi Firmansyah dari ITB menunjukkan bahwa pembangunan jembatan di Selat Sunda dengan panjang 27 kilometer dan lebar 30 meter hanya butuh dana sekitar Rp 31,668 triliun. Peneliti pada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat itu menyebutkan, sebanyak 40 persen dari nilai proyek digunakan untuk membangun fondasi di laut dalam. Perkiraan biaya pembangunan JSS itu disampaikan dalam makalah berjudul Tantangan Alam dan Tipe Struktur Jembatan Lintas Selat Sunda yang disampaikan dalam Semiloka Infrastruktur Lintas Selat Sunda di ITB pada Februari 2003.

Pendanaan dan Kelayakan

Kendati belum ada kepastian sumber pembiayaan, kedua provinsi yang dalam waktu dekat akan membentuk konsorsium memperkirakan sekitar 50 persen dana pembangunan akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Banten dan Lampung. Kebijaksanaan Pemerintah dalam hal penghubung Selat Sunda ini adalah memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada pihak swasta dalam berperan aktif baik pembiayaan studi maupun konstruksi.

Berdasarkan kesepakatan antara pihak Indonesia yang diwakili oleh Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Internasional dengan pihak Cina yang diwakili oleh Tim Ahli Konsorsium Cina telah didiskusikan skema-skema pembiayaan. Di samping Cina, terdapat beberapa Negara yang berminat untuk menjadi investor terhadap proyek pembangunan Jembatan Selat Sunda yaitu Amerika Serikat dan Jepang.

Beberapa skema pembiayaan untuk mewujudkan kerjasama pembangunan jembatan ini di antaranya adalah:

1. Resources Trade Barter Schema, dengan skema ini pihak Cina akan bertanggung jawab untuk keseluruhan aspek dalam pelaksanaan proyek, mulai dari Pre-Feasibility Study, Feasibility Study, DED, dan pembangunan infrastruktur yang disepakati. Pihak Indonesia bertanggung jawab untuk membayar dalam bentuk sumber daya baik dalam bentuk Aspal Buton, Kayu Olahan atau Gelondongan, Minyak, Gas, Kapal Terbang dan lain-lain.

2. Loan Scheme, dengan skema ini pihak Cina akan memberikan loan untuk pembangunan infrastruktur yang disepakati, dan pihak Indonesia bertanggung-jawab membayar kembali loan dengan kondisi tertentu yang disepakati kedua belah pihak.

3. Investment Scheme, dengan skema ini, pihak Cina akan bertanggung-jawab untuk pembangunan dan pengoperasian infrastruktur yang disepakati (BOT Scheme), dan seluruh biaya untuk konstruksi dari proyek dianggap investasi pihak Cina. Operasionalisasi jembatan dalam bentuk system toll yang dapat digunakan untuk pembayaran kembali investasi.

4.  Mix Scheme, dalam skema ini, skema terdahulu dapat digabungkan bersama.

Menurut Menteri Pekerjaan Umum (PU), pihak swasta yang terlibat dalam pembangunan jembatan Selat Sunda akan diberikan kompensasi yang luas. Kompensasi ditawarkan pemerintah mengingat keikutsertaan pihak swasta sangat diharapkan untuk menutupi tingginya biaya pembangunan jembatan tersebut, yang diperkirakan mencapai Rp90–100 triliun. Dengan diberikan kompensasi pengembangan wilayah di sekitar jembatan, diharapkan pihak swasta lebih tertarik untuk ambil bagian.

Kompensasi pengembangan wilayah sekitar proyek diperhitungkan dapat memberi tambahan hasil bagi pengembang yang ikut serta. Sebab, jika hanya mengandalkan tarif tol dari jembatan tersebut, pengembalian investasi akan sangat lama. Pemberian kompensasi oleh pemerintah selain membuat proyek pembangunan jembatan tersebut menjadi lebih layak (feasible) juga dapat memacu pembangunan di wilayah Lampung dan Banten menjadi lebih pesat. Konsesi yang diberikan kepada investor swasta dapat berupa tambang, real estat, dan lain-lain.

Selanjutnya, menurut laporan JICA-Expert, pemilihan mode transportasi pada jembatan Selat Sunda tergantung pada pengembangan bagian selatan Pulau Sumatra dan bagian barat Pulau Jawa, di samping dipengaruhi biaya konstruksi dan skema pembayaran. Tanpa ditunjang sistem jaringan jalan yang handal pada kedua ujung pulau (jalan-raya/kereta-api), penyeberangan tidak akan memberikan volume lalu lintas yang cukup untuk mengembalikan biaya investasi. Lebih lanjut, dari studi JICA-Expert, sistem jaringan jalan darat sangat diperlukan untuk dibenahi terlebih dahulu sebelum melaksanakan pembangunan penyeberangan secara permanen. Hasil studi oleh JICA, besarnya biaya pembangunan Jembatan Selat Sunda adalah sekitar 25 – 50 triliun rupiah.

Selain menyatukan jalur transportasi Jawa-Sumatera, JSS akan meringankan biaya perjalanan bagi pengguna jasa penyeberangan, terutama biaya transportasi angkutan barang. Jika JSS dikelola dengan sistem jalan tol, biaya transportasi akan lebih murah daripada biaya yang harus dikeluarkan dengan menumpang kapal roro.

Saat ini, tarif tol di Indonesia dipatok Rp 180 hingga Rp 900 per kilometer. Untuk perjalanan 29 kilometer di JSS, kemungkinan biaya terendah yang dikeluarkan sekitar Rp 5.220 hingga yang tertinggi Rp 26.100. Jika diasumsikan diberlakukan tarif termahal Rp 6.000 per kilometer untuk truk trailer, biaya yang harus dikeluarkan untuk melintasi Jembatan Selat Sunda Rp 174.000. Tarif itu lebih rendah dibanding tarif kapal feri. Tarif penyeberangan dengan menggunakan kapal roro saat ini paling rendah Rp 8.500 untuk sepeda motor dan tertinggi Rp 810.000 untuk truk trailer.

Selain angkutan barang, tarif angkutan penumpang antarkota antarprovinsi (AKAP) juga bisa dihemat. Dengan tarif Rp 80-Rp 130 per kilometer untuk bus AKAP kelas ekonomi, tarif yang dikenakan kepada penumpang untuk menyeberangi Selat Sunda Rp 2.320-Rp 3.770 per orang. Sementara untuk menumpang kapal roro, penumpang harus membayar Rp 9.000 (dewasa) dan Rp 5.000 (anak-anak) untuk kelas ekonomi, serta Rp 12.000 (dewasa) dan Rp 8.000 (anak-anak) untuk kelas bisnis.

Keuntungan lain dari keberadaan Jembatan Selat Sunda adalah penghematan waktu tempuh Merak-Bakauheni. Untuk menyeberangi selat selebar 17 mil laut atau 30 kilometer, kapal roro membutuhkan waktu 2,5-3 jam dan satu jam untuk kapal cepat. Sementara jika menggunakan jembatan, waktu yang dibutuhkan pengendara untuk menyeberangi Selat Sunda sekitar 30 menit dengan asumsi kecepatan kendaraan sekitar 60 kilometer per jam.

About budisuanda

Praktisi dan akademisi manajemen proyek
This entry was posted in Proyek Indonesia and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s