Waste Beton Tinggi, Ini Resepnya!

reuse waste beton Waste beton sulit dikendalikan. Banyak penyebab yang membuat waste beton tinggi. Padahal tingginya waste material yang mahal ini berarti tinggi pula hidden cost yang akan menjadi tambahan biaya proyek. Bagaimana mengendalikannya?

Tulisan sebelumnya “Tingginya waste beton = Hidden Cost, Penyebabnya?” telah menggali faktor utama penyebab tingginya waste beton. Jika Anda ingin tahu mengenai besaran nilai waste material hasil penelitian di luar negri, anda juga dapat melihat hasil penelitiannya pada tulisan lain yaitu “Waste besi tinggi?Tenang, ada SOWB…”

Pada dasarnya hidden cost akibat waste material sudah diketahui dan diteliti. Tapi usaha dalam rangka mengendalikan dan mengurangi waste, sepanjang yang saya tahu masih belum memadai. Untuk itu diusulkan di sini beberapa strategi mengendalikan dan mengurangi waste berdasarkan pengalaman dan referensi yang ada.

Strategi-strategi tersebut, di samping dimaksudkan untuk mengurangi risiko waste yang berdampak biaya, juga dalam usaha untuk meningkatkan kualitas “green” dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Strategi-strategi tersebut belum pernah diteliti. Sehingga perlu dikaji kesesuaianya berdasarkan situasi dan kondisi proyek masing-masing.

Strategi mengatasi tingginya waste material beton yang utama adalah sebagai berikut:

  1. Merencanakan margin yang cukup dalam mix design beton. Margin yang cukup akan mengurangi risiko tidak tercapainya mutu beton. Walaupun harga akan sedikit naik, akan tetapi risiko beton dibongkar akan dapat diatasi dengan margin yang cukup.
  2. Melakukan survey di batching plan. Langkah ini bertujuan untuk memastikan proses pencampuran beton berjalan sesuai dengan volume yang akurat.
  3. Perencanaan metode pengecoran yang tepat.
  • Rantai dan transportasi adukan beton yang paling pendek dan cepat
  • Memilih cara pengecoran yang paling mudah untuk dikerjakan
  • Merencanakan metode perlindungan area pengecoran terhadap hujan untuk menjaga mutu beton
  1. Perencanaan tenaga kerja yang sesuai. Tenaga kerja yang digunakan pada pekerjaan pengecoran haruslah:
  • Berpengalaman dan spesialis
  • Dalam jumlah yang cukup sesuai volume pekerjaan, durasi pengecoran dan metode pelaksanaan yang direncanakan.
  • Koordinatif, maksudnya dapat dengan mudah untuk diarahkan
  • Bekerja hati-hati, tidak kejar tayang.
  1. Waktu pengecoran yang tepat. Pengecoran harus mempertimbangkan faktor-faktor :
  • Kemacetan jalan raya khususnya pada jalur yang dilewati oleh truk molen. Kemacetan menyebabkan waktu tempuh truk molen yang lebih lama
  • Kondisi perkiraan cuaca. Perkiraan cuaca didapat dari data historis dari BMKG dan informasi berita dari media cetak maupun media TV. Pengecoran waktu hujan akan membuat beton berpeluang tidak mencapai mutu yang ditargetkan karena tercampurnya adukan beton dengan air hujan.
  • Perkiraan selesainya pekerjaan bekisting dan pembesian.
  1. Perencanaan alat yang efektif. Pemilihan alat haruslah tepat dan efektif. Perhatian utama dalam perencanaan alat adalah:
  • Data waste rata-rata yang terjadi pada penggunaan masing-masing alat. Usahakan untuk memilih alat yang memiliki waste yang paling rendah
  • Menggunakan alat yang mendukung metode pelaksanaan
  • Alat yang digunakan harus memiliki track record perawatan yang baik. Alat yang tidak dirawat dengan baik akan gampang rusak. Di samping itu carilah catatan mengenai sejarah kerusakan alat yang akan digunakan.
  • Menggunakan alat yang berumur muda atau yang memiliki time sheet pemakaian yang masih cukup memadai. Semakin tua alat akan semakin aus mesinnya yang berarti rawan kerusakan
  1. Perencanaan pengujian atau test yang benar. Seringkali petugas QC proyek tidak mengetahui frekuensi dan tata cara pembuatan dan perawatan benda uji silinder dengan benar. Mereka bahkan sering tidak mengontrol proses pembuatan dan perawatan benda uji. Perlu diperhatikan dalam rangka merencanakan pengujian yang benar adalah:
  • Peraturan dan spesifikasi teknis pengujian mutu beton. Berdasarkan pengalaman, pilihlah peraturan SNI 2002 atau ACI 318_02 (Evaluasi mutu beton berdasarkan ACI_318) sebagai dasar perencanaan frekuensi dan tata cara merawat serta menguji silinder beton. Peraturan tersebut dalam perhitungan dan pengalaman adalah yang paling irit. Sehingga waste beton akan kecil
  • Petugas QC harus ditraining terlebih dahulu sebelum proyek dimulai.
  • Jumlah silinder harus ditentukan dulu sebelum pengecoran dimulai. Jumlah silinder beton tergantung dari volume pengecoran, jumlah variasi mutu beton yang akan digunakan serta lokasi pengecoran
  • Peralatan dan fasilitas pembuatan benda uji. Benda uji akan tidak sesuai apabila tidak dirawat dengan baik. Program ini apabila kurang baik maka jumlah silinder mungkin perlu ditambah sebagai antisipasi adanya silinder yang tidak layak uji atau setelah diuji menunjukkan tidak tercapainya mutu beton.
  1. Menempatkan petugas khusus (supervisi) yang mengendalikan proses pengecoran beton. Petugas tersebut harus mengawasi setiap proses pengecoran beton yaitu:
  • Menentukan pola pemesanan yang tepat untuk menghindari beton yang terbuang akibat tidak dapat digunakan lagi. Pola pemesanan yang benar akan menghindari antrian truk molen, beton tumpah di jalan, dan sisa adukan beton saat pengecoran telah selesai.
  • Mengawasi ketepatan posisi alat agar adukan beton yang terbuang dapat diminimalisir
  • Melakukan pengecekan alat yang digunakan sebelum memulai proses pengecoran. Pastikan alat dalam kondisi terawat dan siap pakai
  • Melakukan pengecekan sambungan pipa beton, sambungan tremi dengan bucket cor, memastikan mekanis bucket cor berfungsi baik.
  • Melakukan pengecekan bekisting. Bekisting harus kuat dan tidak bocor.
  • Melakukan pengecekan umur adukan beton segar. Agar diperhatikan workability dari adukan beton tersebut agar masih dapat dituang dengan baik.
  • Mengawasi proses pengecoran oleh para pekerja agar hati-hati dan sesuai dengan metode pelaksanaan yang direncanakan.
  • Secara rutin melakukan cek atas workability adukan beton yang dituang.
  • Mengawasi supplier, teknisi pompa dan pekerja agar tidak menambahkan air ke dalam adukan beton terlebih pada beton mutu tinggi. Agar dibuat komitment yang kuat kepada semua orang yang terlibat dalam proses pengecoran beton agar tidak menambahkan air ke dalam adukan beton baik di truk molen, maupun pompa beton.
  • Petugas supervisi haruslah memiliki pengetahuan yang baik mengenai beton, berpengalaman, dan berattitude baik.
  1. Melakukan perhitungan volume yang akan dituang bersama dengan pihak supplier. Langkah ini bertujuan untuk mencegah kecurangan yang dilakukan oleh pihak supplier. Perhitungan berdasarkan shop drawing area yang akan dilakukan pengecoran. Perhitungan bersama tersebut harus disepakati sebagai dasar pembayaran selama tidak ada kejadian yang tidak ideal.
  2. Volume beton yang dipesan per truk molen harus tidak berlebihan atau tidak kebanyakan. Supplier beton cenderung untuk memaksimalkan volume beton dalam tiap truk molen. Tujuannya agar menghemat biaya transportasi. Pertimbangan utama dalam pemesanan volume beton pada tiap truk molen atau tiap pesanan adalah:
  • Tidak melebihi batas maksimum pemesanan.
  • Memperhatikan kondisi rute jalan yang akan ditempuh. Apabila jalan banyak yang berlubang maka jumlah beton dalam truk molen harus dikurangi agar beton tidak tumpah dalam perjalanan.
  1. Meminta laporan perawatan alat secara rutin. Laporan ini akan berguna dalam menilai kelayakan alat yang digunakan. Tiap alat memiliki prosedur perawatan yang berbeda-beda. Langkah ini untuk memastikan proses pengecoran akan berjalan dengan baik.
  2. Memanfaatkan sisa beton. Kalaupun terjadi kelebihan pesanan atau beton yang terbuang karena sebab-sebab di yang telah disebutkan, maka usahakan untuk memanfaatkannya. Beton sisa dapat dipakai untuk:
  • Membuat jalan akses
  • Mencetak tambahan silinder beton
  • Membuat kanstin
  • Membuat lantai kerja
  • Membuat tahu beton
  • Membuat bangunan atau fasilitas pekerjaan persiapan
  • Pekerjaan lain yang menggunakan material beton

Strategi di atas pada dasarnya berujung pada perencanaan dan pengawasan pekerjaan pengecoran yang baik serta menggunakan semaksimal mungkin sisa material beton. Jika strategi di atas dapat terlaksana dengan baik, bukan tidak mungkin waste material beton dapat ditekan hingga di bawah 1% seperti pengalaman yang pernah terjadi. Semoga pelaksanaan proyek akan terkendali lebih baik

About budisuanda

Praktisi dan akademisi manajemen proyek
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s